Tandaseru — Pulau Morotai di Maluku Utara, sebuah permata di Samudera Pasifik, tidak hanya memukau dengan keindahan alamnya, tetapi juga menyimpan catatan kelam sekaligus heroik dari sejarah dunia.

Dikenal sebagai salah satu pulau terluar Indonesia, Morotai adalah destinasi penting bagi para penikmat wisata sejarah, khususnya yang terkait dengan Perang Dunia II dan Operasi Trikora.

​Di Desa Wawama, Kecamatan Morotai Selatan, berdiri sebuah monumen bersejarah yang seharusnya menjadi kebanggaan nasional: Museum Trikora PD II. Lokasinya strategis, hanya berjarak sekitar 12 menit dari pusat kota Daruba.

Monumen ini menyimpan erat memori pendaratan pasukan Sekutu Amerika Serikat di bawah komando Jenderal Douglas MacArthur pada tahun 1944, sebuah bagian krusial dari Operasi Trade Wind yang menandai awal pertempuran sengit antara Amerika dan Jepang di pulau tersebut.

​Diresmikan Megah, Terbengkalai Menyedihkan

​Museum yang didirikan oleh Kementerian Kebudayaan dan diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2012 ini dahulunya merupakan rumah bagi berbagai benda bersejarah, mulai dari senjata, peluru, hingga artefak peninggalan Perang Dunia II lainnya. Ia adalah sebuah jendela masa lalu yang menarik minat wisatawan mancanegara untuk menapaki jejak sejarah global di ujung timur Indonesia.

​Namun, wajah museum yang dulunya megah itu kini menyimpan kisah yang memilukan. Kondisi bangunan yang dipantau pada Jumat (28/11/2025) menunjukkan kerusakan parah dan terkesan tidak terurus.

​Muhlis Saramin, sang penjaga Museum Trikora PD II, dengan nada prihatin menceritakan kondisi yang dialami. Menurutnya, kerusakan ini telah terjadi sejak sebelum masa pemerintahan saat ini, dimulai setelah penyerahan aset dari Kementerian Kebudayaan kepada Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai pada tahun 2019.

​“Waktu masih dibawa Kementerian Kebudayaan bangun sangat bagus, dan waktu diserahkan kemudian pada masa pemerintah Benny Laos dan Asrun Padoma sekitar tiga empat tahun pas diserahkan sudah mulai rusak tak terurus,” ungkapnya.

​Ancaman di Setiap Sudut

​Kerusakan yang paling mencolok dan mengkhawatirkan adalah pada bagian struktur dan interior. Muhlis menyebutkan bahwa kaca jendela dan atap bangunan menjadi bagian yang paling memprihatinkan.

​“Berbahaya itu atap sama kaca, karena ini bisa jadi yang kita takutkan ketika ada pengunjung tiba-tiba kaca dan plafon jatuh, karena untuk kaca dia punya klem sudah putus semua, karena kita takutkan pas angin kencang dari arah laut,” ujarnya.

​Lebih parah lagi, hancurnya atap membuat lantai museum kerap kebanjiran saat hujan, serta memicu pertumbuhan rumput dan lumut di dalam area museum. Fasilitas bersejarah ini, yang seharusnya dijaga sebagai warisan dunia, kini menunjukkan tanda-tanda kegagalan dalam pemeliharaan.

​Ironisnya, meskipun kondisinya memprihatinkan, Museum Trikora tetap menerima pengunjung setiap harinya, dengan perkiraan mencapai 10 orang per hari. Lokasi ini juga masih sering dijadikan tempat untuk berbagai kegiatan, sebuah bukti bahwa potensi wisata sejarah Morotai sesungguhnya sangat tinggi. Pengunjung mancanegara rata-rata terkesan dengan sejarah yang disajikan, namun sangat berharap agar fasilitasnya segera diperhatikan.

​Harapan pada Tangan Pemerintah

​Muhlis dan rekan-rekannya menyayangkan sikap Dinas Pariwisata Morotai meski museum kini berada di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang dianggap gagal dalam merawat situs sepenting ini. Ia bahkan menyinggung biaya operasional yang harus ditanggung, termasuk tagihan listrik bulanan yang mencapai lebih dari Rp2 juta, sebuah beban yang terasa berat di tengah minimnya perhatian terhadap perbaikan.

​Sebagai satu-satunya pengelola, ia berharap agar Pemerintah Daerah Morotai dan semua pihak terkait dapat lebih fokus memperhatikan museum bersejarah ini.

​“Moseum ini sudah banyak menarik Wisata mancanegara untuk berkunjung… Jadi, museum ini jangan dijadikan alasan tidak dihiraukan karena ini sama-sama punya negara, jadi sama-sama kita jaga kita perbaiki karena Morotai adalah saksi sejarah yang kita kenali di seluruh dunia,” pungkasnya penuh harap.

​Kisah tentang Museum Trikora PD II Morotai adalah sebuah panggilan mendesak. Ia bukan hanya tentang merawat sebuah bangunan, melainkan tentang menjaga sebuah narasi sejarah dunia yang menjadi identitas Morotai dan martabat bangsa. Membiarkan saksi bisu Perang Dunia II ini terus rusak berarti membiarkan salah satu warisan paling berharga di Indonesia bagian timur hilang ditelan waktu dan kelalaian.

Sahril Abdullah
Editor
Irjan Rahaguna
Reporter