Tandaseru — Demi meningkatkan pemahaman dan kewaspadaan siswa terhadap bahaya tindakan kekerasan seksual, tim pengabdian kepada masyarakat (PKM) dari Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Maluku Utara, menggelar penyuluhan dengan tema “Penyuluhan Buku Saku Stop Tindakan Kekerasan Seksual” di SMP Negeri 4 Kota Ternate pada 8 Agustus 2025 lalu. Kegiatan ini diikuti puluhan siswa dan guru, serta mendapat sambutan hangat pihak sekolah.

Penyuluhan buku saku pencegahan tindakan kekerasan seksual di SMP Negeri 4 Ternate. (Istimewa)

​Acara yang berlangsung selama 2 jam di aula sekolah tersebut bertujuan membekali para siswa dan guru dengan pengetahuan dasar terkait tindakan kekerasan seksual yang terangkum dalam buku saku. Materi yang tertera pada buku saku ini mencakup penjelasan terkait definisi tindakan kekerasan seksual, pengenalan bentuk-bentuk tindakan kekerasan seksual, dampaknya dan mekanisme pelaporan yang tepat. Tim pengabdian, yang dipimpin oleh Sri Ayu Budi Lestari, M.Pd., dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unkhair, membagikan file buku saku berjudul Stop Tindakan Kekerasan Seksual: Kenali, Hindari, Laporkan! Buku saku ini dirancang ringkas, dengan ilustrasi menarik dan bahasa sederhana yang mudah dipahami oleh siswa usia 12-15 tahun.

“Remaja adalah masa depan bangsa, tapi mereka juga rentan terhadap ancaman tindakan kekerasan seksual di lingkungan sekitar. Melalui buku saku ini, kami berharap dengan pemahaman yang memadai terkait tindakan kekerasan seksual, mereka mampu untuk tidak hanya melindungi diri sendiri, namun juga saling melindungi satu sama lain dan orang-orang disekitar mereka,” ujar Sri Ayu saat membuka kegiatan penyuluhan.

Penyuluhan buku saku pencegahan tindakan kekerasan seksual di SMP Negeri 4 Ternate. (Istimewa)

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi yang tertera pada buku saku dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang melibatkan kurang lebih 50 siswa kelas VII hingga IX dan perwakilan guru. Para peserta diajak berbagi pengalaman melalui role-playing sederhana, di mana mereka belajar mengidentifikasi situasi berisiko dan langkah-langkah apa yang seharusnya mereka lakukan jika mengetahui adanya tindakan kekerasan seksual di sekitar mereka. Selain itu, tim juga menampilkan video animasi pendek yang mengilustrasikan skenario nyata kekerasan seksual di sekolah, disertai tips pencegahan berbasis hukum, termasuk Undang-undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS).

Rasna Basyir, S.Pd, Wakasek Sarana dan Prasarana SMP Negeri 4 Kota Ternate sebagai perwakilan sekolah, menyambut baik pelaksanaan kegiatan penyuluhan ini.

Siswa SMPN 4 Kota Ternate antusias bertanya saat menjadi peserta penyuluhan. (Istimewa)

“Sekolah kami selalu terbuka untuk program edukasi seperti ini. Kekerasan seksual bukan hanya ancaman bagi siswi kami, namun juga bisa terjadi pada siapa saja sehingga perlu kerjasama dari semua pihak untuk mengantisipasi terjadi hal ini. Buku saku ini juga akan kami jadikan bahan ajar tambahan di kelas BK,” paparnya.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) melaporkan adanya kecenderungan peningkatan kasus kekerasan terhadap anak setiap tahunnya termasuk didalamnya kasus tindakan kekerasan seksual. Namun disinyalir jumlah kasus kekerasan yang terjadi di masyarakat lebih banyak dibandingkan yang diketahui karena banyaknya kasus yang tidak dilaporkan. Hal inilah yang mendasari kegiatan pembuatan buku saku stop kekerasan tindakan seksual yang dilanjutkan dengan kegiatan penyuluhan ke SMP Negeri 4 Kota Ternate. Tim berharap, program serupa juga dapat dilaksanakan di sekolah-sekolah lainnya dari jenjang sekolah dasar hingga menengah atas sekota Ternate.

Para siswa yang hadir tampak antusias.

“Saya baru tahu kalau catcalling itu contoh bentuk tindakan kekerasan seksual. Buku ini keren, bisa saya bawa pulang dan ceritakan ke orang tua,” ungkap Ahmad, salah satu siswa peserta penyuluhan.

Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab dimana siswa secara bergantian memberikan pertanyaan dan membagikan pengalaman mereka terkait tindakan kekerasan seksual yang mereka jumpai baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Ika Fuji Rahayu
Reporter