Oleh: Thomas Ch. Syufi

________

TAHUN ini, 2025, merupakan hari amat bersejarah bagi pemuda Indonesia, termasuk Papua, yakni merayakan 97 tahun Hari Sumpah Pemuda 20 Oktober 1928 (meski momentum Sumpah Pemuda maupun Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, tidak ada orang Papua di sana). Namun, kali ini saya ingin mengajak pemuda, khususnya pemuda calon intelektual dan pemimpin masa depan bangsa, yaitu mahasiswa untuk belajar dari sejarah perjuangan mahasiswa Spanyol melawan diktator dan ketidakadilan yang dimulai pada tahun 1923.

Perjuangan mahasiswa Spanyol memang terbilang berkelok-kelok dan  panjang sekaligus melelahkan untuk melawan rezim diktator yang saat itu dipimpin oleh Jenderal Primo de Rivera. Semangat dan darah perubahan yang mengalir pada tubuh para oposan muda Spanyol tak pernah mengenal tepian dan akhir.

Yang terbesit dalam benak dan jiwa mereka adalah perjuangan terus dilanjutkan, revolusi harus dilakukan dan  keadilan, kesejahteraan,  serta kebebasan segera diwujudkan. Mereka merasa bahwa Rivera yang merebut kekuasaan dengan jalan kudeta militer gagal membawa Spanyol ke masa depan yang lebih baik;  mewujudkan keadilan dan kesejahteraan.

Yang ditangkap mahasiswa dari rezim Rivera adalah justru membawa bangsa Spanyol terperosok dalam lembah penindasan dan ketidakadilan yang tak manusiawi. Hal inilah memicu kebencian dan amarah dari kalangan mahasiswa dan intelektual untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Rivera.

Perlawanan itu mulai disulut oleh kaum intelektual yang dipelopori oleh penulis terkenal Ortega y Gaset. Kritik-kritik tajam pun terus diproduksi dan dilancarkan oleh para oposan muda ini terhadap sistem pemerintahan dan cara-cara pelaksanaannya. Pada tanggal 14 April 1931, Republik Spanyol diproklamasikan. Kondisi ini akhirnya memaksa Raja Alfonso XII dari Bourbon untuk mengakhiri kekuasaannya sekaligus meninggalkan Spanyol untuk menghindari pertumpahan darah.

Akan tetapi, ekspektasi dan kegembiraan yang lahir saat itu hanya berlangsung singkat. Pemerintahan Republik kurun 1931-1936 justru menimbulkan banyak problem sosial, seperti  ketegangan sosial, frustasi, dan kegelisahan tiada akhir.

Di tengah kondisi yang tak menentu ini, muncullah seorang tokoh militer bernama Jenderal Franco, memainkan peranan utama. Akhirnya, Franca mengambil alih kekuasaan (take over power). Para aktivis mahasiswa di universitas dan para intelektual harus bekerja keras dan terus menerus untuk menyikapi keadaan yang tak berkenaan dengan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan tersebut.

Sejumlah organisasi mahasiswa yang terpenting, antara lain Federacion Univeritaria Espanola (FUE), yang condong ke aliran kiri, Association de Estudiantes Catolicos, yang cenderung beraliran kanan, dan yang sangat ekstrem  Sindicate Espanol Universitario (SEU). Organisasi yang lahir pada 29 Oktober 1933 ini sangat dipengaruhi Jenderal Franco.

Selain itu, ada beberapa organisasi lain juga yang pergerakannya agak similar dan keras terhadap rezim Franco, yakni Organisasi Mahasiswa Catalonia (FNEC). Organisasi ini menjadikan kota Barcelona sebagai lokus utama pemikiran, pergerakan, dan keprihatinannya. Selanjutnya, Organisasi Mahasiswa Kristen Demokrat (UED), yang memiliki cabang-cabang di hampir di semua universitas. Dan, Organisasi Mahasiswa Basque(EIA)—memiliki  kantor pusat di Balbao—dengan fokus utamanya adalah mengadakan latihan kepemimpinan.

Tidak sampai situ. Dalam perjalanannya, perang saudara pun meletus. Hal tersebut bukan sekadar peristiwa politik semata melainkan juga sebagai tragedi kemanusiaan. Tak kurang dari satu juta rakyat menemui ajal; ribuan mahasiswa mati, ratusan intelektual dibunuh. Fakta tersebut menunjukkan bahwa Jenderal Franco tidak mudah merebut kekuasaan; dia menghadapi perlawanan dari pihak kaum Katolik dan para kelompok yang pro-raja.

Meski setengah abad lebih tahun yang lalu, tetapi tragedi tersebut selalu diperingati oleh para mahasiswa Spanyol sebagai sebuah kontemplasi politik. Mereka mengenang dan merefleksikan peristiwa amat historis itu untuk menentukan arah, kehidupan, dan perjuangan bangsa dan rakyat, termasuk mahasiswa Spanyol ke depan.

Sebuah demonstrasi damai di era 1960-an, dalam selebaran yang diedarkan berisi antara lain, “Demonstrasi mahasiswa menentang pemerintahan totaliter karena menindas mahasiwa dan buruh. Perjuangan mahasiswa adalah menuju persatuan mahasiswa yang demokratis dan pemerintahan yang demokrasi”(Yazor Anwar).

Hampir semua universitas dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya mengadakan reorganisasi,  semenjak rezim Falangist dari Jenderal Franco menyingkirkan kaum Republik tahun 1939. Semua organisasi mahasiswa dilarang, kecuali  SEU sebagai antek Franco eksis dan diakui negara.

Ketegangan di tataran organisasi mahasiswa kian memuncak, baik menentang rezim Franco maupun menghadapi SEU. Sikap SEU membawa kesan buruk bagi sejarah pergerakan dan perjuangan mahasiswa untuk melawan kekuasaan yang lalim, otoriter, korup, dan antidemokrasi.

Ketegangan di kalangan organisasi mahasiwa ini tak kunjung surut, bak menabur magma di gunung berapi, yang tunggu waktunya untuk meletus. Letusan itu pun terjadi pada awal Februari 1965. Para mahasiswa terus melancarkan demonstrasi menentang keberadaan SEU. Menurut para demonstran, kemanusiaan sebagai asas utama ketimbang jadi antek atau kaki-tangan penguasa diktator, yang buta terhdap kebebasan dan rajin menciptakan “sungai darah” yang tidak lain adalah darah rakyatnya sendiri. “Aib terbesar adalah ketika kamu lebih mementingkan kehidupan ketimbang harga diri, sementara demi kehidupan itu sendiri engkau telah kehilangan,” kata Juvenalis.

Ruang pergerakan mahasiswa memang terpasung dan terkunci ketika Franco jadi diktator Spanyol. Universitas yang awal dicita-citakan sebagai pilar penegakan keadilan, kejujuran, kebenaran justru tergerus dalam cengkeraman kekuasaan yang pongah. Kejujuran bisa rapuh di muka hukum saat keadilan dimanipulasi dengan kekuasaan; kekuasaan digunakan untuk melibas dan menindas yang lemah. Kekuasaan yang diimpikan sebagai instrumen untuk melayani justru telah berubah menjadi sarana penindasan.

Seperti itulah wajah Spanyol kala itu, baik dipimpin oleh Rivera atau pun Franco. Sejak tahun 1953, rezim Falangsit mengeluarkan sebuah undang-undang yang dinamakan Ley de Ordencion de la Universidad Espanola, yang  bertujuan mengawasi kegiatan mahasiswa dan universitas.

Misalnya, Frederico Sanches dan Domingo Aurora ditahan pada tanggal 20 Februari 1962 karena menulis ditembok “Demokrasi dan Merdeka.” Tak lewat dari tiga hari, kejadian ini mendapat reaksi protes keras dari para mahasiswa melalui demonstrasi untuk meminta pemerintah segera membebaskan kedua pemuda  tersebut sekaligus meminta penguasa berhenti memasung ruang kekebasan dan kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum, entah melalui pikiran, tulisan, atau pun tindakan.

Mereka juga meminta diktator segera mengubah karakter pemerintahannya yang barbar dan represif menjadi demokratis dan humanis. Pemimpin harus memiliki jiwa kemanusiaan, dengan menghormati  keberadaan, keutuhan, martabat, dan kebebasan manusia lain.

Jadi, jelaslah bahwa perjuangan mahasiswa Spanyol memang benar-benar berpihak pada keadilan, kebenaran, demokrasi, dan kemanusiaan. Meski berhadapan dengan sanksi drop out (DO) dari universitas, popor senjata, jeruji besi, atau timah panas, tetapi mereka tak pernah gentar apalagi lari tunggang langgang: mundur, berlutut, dan menyerah.

Potret Mahasiswa Papua

Bagaimana dengan kondisi perjuangan mahasiswa Indonesia, khususnya Papua atas berbagai labirin amanat penderitaan rakyat (Ampera)? Pertanyaan fundamental ini ditujukan kepada para pejuang muda yang berhimpun dalam kelompok Cipayung, yakni Perhimpuan Mahasiswa Katolik Rerpublik Indonesia (PMKRI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), dan Pergerakan Masiswa Islam Indonesia (PMII), termasuk organisasi intra kampus, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM).

Apakah kelompok-kelompok ini telah menjalankan misi mulianya sebagai pemuda tulang punggung bangsa, agen perubahan, katalisator demokratisasi, dan pembangunan seperti para mahasiswa Spanyol setengah abad yang lalu berjuang melewati lika-liku pemerintahan diktator yang despotis, bengis, dan kejam hingga berakhir manis dengan membuka pintu demokrasi? Apakah keadilan, kebenaran, dan demokratisasi yang diperjuangkan oleh mahasiswa Spanyol itu cukup diisi dengan teriakan mahasiswa Papua di forum sidang pemilihan pimpinan mahasiswa, debat kusir di kedai kopi, melakukan pertemuan gelap dengan segerombolan politisi anti-dialektika di hotel berbintang, dijamu dengan aroma menu-menu restoran yang higienis, sampai menumpulkan idealisme, atau membahanakan suara merdu di ruang karaoke? Tentu tidak! Bahkan suara seperti Yohanes Pembaptis berseru di padang gurun pun tak  akan pernah meniupkan perubahan, karena tak ada yang mendengar, tak ada juga sahut. Tetapi, perubahan butuh tindakan nyata; suatu gerakan yang dilakukan secara total dan konsisten serta terus menerus. Maka, diajak mahasiswa sudahi mental oportunis, pengecut, dan NATO (No Action Talk Only)—serta berdiri di barisan paling depan—untuk  memikul berbagai beban penderitaan rakyat di negeri ini, baik persoalan keadilan, kesejahteraan, demokrasi, maupun kemanusiaan yang menjadi mahkota peradaban. Gaudeamus igitur, iuvenes dum sumus(marilah kita bergembira selagi kita masih muda)! Liberte. Semoga. (*)