Oleh: Fendy Yainahu
________
MALAM itu, Jakarta berdiri di antara asap, teriakan, dan sirene.
Langkah-langkah massa berhamburan,
batu beterbangan,
cahaya lampu jalan berkedip seperti doa yang tak sempat terucap.
Di tengah kekacauan itu,
seorang lelaki sederhana menepi,
dengan jaket hijau yang sudah lusuh,
dengan helm yang sudah penuh goresan,
dengan motor kecil yang jadi saksi betapa kerasnya hidup.
Ia bukan pendemo,
ia bukan provokator,
ia hanyalah pengantar pesanan terakhir malam itu,
menuju alamat yang belum sempat disinggahi.
Sebuah orderan kecil,
yang mungkin hanya bernilai belasan ribu,
namun di matanya berarti setangkup nasi untuk anak di rumah,
dan segelas susu untuk istrinya yang menunggu.
Tapi takdir tidak mengenal arti pulang.
Dari kejauhan,
besi raksasa itu melaju,
sirinenya meraung menelan doa.
Tak ada mata yang menoleh,
tak ada hati yang peduli,
roda besi itu hanya tahu melindas,
menghajar siapa saja di depannya.
Dan ia tak sempat menghindar.
Tubuhnya terhempas,
terjerembab di aspal dingin yang basah oleh keringat dan air mata,
dan sebelum sempat bangkit,
roda besi itu menutup napasnya.
“Ya Allah! Ya Allah! Keinjek itu… keinjek…”
jerit seorang saksi,
suara yang pecah dalam rekaman,
suara yang akan menghantui malam-malam berikutnya.
Di rumah kecil di gang sempit,
istrinya masih menunggu dengan resah,
memeriksa layar ponsel yang menampilkan notifikasi,
“Driver sudah dekat.”
Pesan yang kini berubah menjadi kabar duka.
Anak-anaknya tertidur dengan polos,
menanti kepulangan ayah yang takkan pernah lagi mengetuk pintu.
Senyum mereka akan menyambut hampa,
kursi makan akan tetap kosong,
dan jaket hijau itu kini hanya akan tergantung
sebagai kenangan pahit di sudut ruangan.
Ojol itu tak pernah pulang.
Ia pulang hanya sebagai kabar di televisi,
sebagai potongan video yang viral di media sosial,
sebagai jeritan massa yang mengiringi tubuhnya
menuju tanah basah pemakaman.
Dan kita semua menjadi saksi,
bahwa hidup bisa direnggut dalam sekejap,
bahwa roda besi bisa lebih bengis dari peluru,
bahwa negara bisa menutup mata
atas darah rakyat kecil yang tumpah di jalan raya.
Ojol itu tak pernah pulang.
Ia hanya pulang lewat doa istrinya yang terisak,
lewat tangisan anak-anak yang memanggil nama ayahnya di malam-malam sepi,
lewat bisik angin yang menyapu jalan Pejompongan,
tempat darahnya pernah menetes,
dan sejarah mencatat:
ada seorang pejuang nafkah
yang gugur di bawah roda besi,
di negeri yang katanya menjunjung keadilan. (*)
Tinggalkan Balasan