Punya ijazah yang tinggi itu baik jika implikasi kebaikan itu adalah muara yang diterima oleh orang-orang yang patut menerimanya.
Sang dokter ini tak bergelar ahli di bidangnya hingga purnatugas. Padahal kesempatan dan sumber daya untuk itu cukup tersedia. Bersama beberapa teman seangkatannya saat itu, adalah tenaga dokter pertama di Kabupaten Halmahera Tengah sebelum daerah ini mekar.
Keluarga sang dokter yang saya tandatangani ijazahnya, yang “hanya” paket C tadi, belum tentu itu sesuatu yang remeh apalagi buruk. Ungkapan sang waktu masih tetap berputar dan besok belum kiamat, cukup menjadi panduan bagi kita, untuk tak memandang rendah siapa saja. Apalagi untuk mengagung-agungkan secarik kertas bernama ijazah, yang faktanya hari-hari ini kita tahu seperti apa cara memperolehnya hingga kisah sukses orang-orang yang hanya berijazah “sangat sederhana sekali” ini.
Dan sang dokter yang tanpa gelar kompetensi ahli ini, sejatinya tahu bagaimana caranya “mengahlikan” gelarnya. Pelayanan praktik yang tak berbayar bagi kaum fakir tadi adalah sejatinya keahlian dan kompetensi, kompetensi kemanusiaan yang jarang dimiliki orang dan tak bisa ditukar dengan gelar apapun. Wallahua’lam. (*)

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.