Sekelumit soal ijazah. Kebetulan di WAG sebuah komunitas yang anggota relatif berpendidikan cukup, kami mendebatkan soal ini. Ini berkait dengan berita keabsahan ijazah Strata Dua dari seorang Menteri yang diragukan. Saya mengomentarinya dengan sedikit berseloroh, kurang lebih bahwa tidak ada masalah. Ijazah S2 saya juga, kabarnya status dan legalitas Perguruan Tinggi penyelenggaranya cuma “terdengar”. Tapi kalau kampus bermaksud menipu dan calon mahasiswa tertipu, cukup banyak kasus begini di negara ini. Toh, S2 sang Menteri tadi dan juga saya, mungkin hanya jadi pajangan. Tidak mempengaruhi syarat kenaikan pangkat ASN atau jenis privilege lain yang saya dapatkan karena fase itu sudah lewat. Dan Mungkin juga karier sang Menteri tadi yang sudah terlanjur melejit. Hanya sekadar gaya-gayaan saja, disertai emoji sedang senyum. Saya melanjutkan, ujian hakiki dari soal ijazah ini, ada pada sikap dan pemihakan terhadap nilai-nilai dan fakta kehidupan kita karena latar pendidikan itu. Seorang sarjana agama akan merasa resah dan terganggu batinnya memikirkan perilaku menyimpang anak muda yang ada di sekelilingnya. Juga seorang sarjana pendidikan akan teriris batinnya melihat banyak anak usia sekolah yang tak bersekolah. Begitu juga seorang dokter.
Din Sinen, seorang tua yang atasan saya di Dinas Pendidikan di kota ini, sering bercanda saat diberitahu ada pembukaan sekolah baru, coba dicek statusnya apakah diakui, terdaftar atau hanya terdengar. “Terdengar”, yang saya maksudkan legalitasnya tadi.
Saya melanjutkan cerita tadi. Saat hendak menandatangani ijazah itu, saya merekomendasikan alat tulis yang “aman” untuk dokumen sepenting ini. Dengan sigap, dua “ajudan” sang dokter ini bergegas mencarinya di toko alat tulis. Kebetulan juga saya tak lagi punya yang berjenis itu. Di saat jeda menunggu inilah, kami mengobrol banyak hal di masa lalu, saat di mana kita harus “bertaruh” dengan kewenangan jabatan yang dimiliki untuk menolong orang lain. Kebetulan juga, institusi pelayanan dasar yang kami pimpin, mengelola sumber daya ASN yang banyak dan beragam. Merunut kisahnya, saya merasa kami mendapatkan poin berimbang, 50:50 di soal bagaimana “menyelamatkan” nasib banyak orang hingga termasuk meloloskan mereka sebagai Aparatur Sipil Negara [ASN] dalam kondisi mekanisme dan sistem rekruitmen yang belum seketat saat ini. Kami bersepakat di satu hal, bisa jadi, Tuhan memberi amanah pada orang yang dipandang bisa menolong dan menyelamatkan nasib umat Tuhan yang lain. Konteksnya tidak pada soal melanggar aturan atau tidak karena semuanya ada resiko jabatan. Sensitifitas dan peduli bagi saya adalah dua prasyarat dasar yang harus dimiliki seorang yang bermental pelayan, termasuk menjadi pejabat publik.
Kami mengobrol banyak soal prospek tenaga kesehatan, dugaan komersialisasi pendidikan hingga peluang bagi golongan orang berpenghasilan rendah bisa mengakses pendidikan kedokteran. Kebetulan juga, putri semata wayangnya telah bergelar dokter. Dan putri sulung saya tak lama lagi akan menyusul jika semuanya berlangsung normal.
Saya mengesankan bahwa di beberapa sisi, kami nyaris sama. Sang dokter ini adalah tipikal orang yang tahu berterima kasih. Betapa itu hanya secuil kebaikan. Kami mengenang kebaikan di antara atasan kami yang pernah menjadi pimpinan daerah ini. Nyaris dengan ekspresi sedih. Saya menyela, seburuk apapun situasi yang dialami orang yang karena tanda tangannya, mengubah nasib saya karena sebab jabatan misalnya, saya berjanji tak akan mengomentarinya. Kami bersepakat. Ada sisi manusiawi dan kebaikan tertentu dari sang dokter ini yang saya memilih untuk tak menulisnya, bagaimana penghargaannya terhadap orang yang pernah menjadi atasan dan “membesarkan”-nya. Ini kontras dengan sikap dan perilaku sebagian kita yang terlihat mudah lupa hingga terkesan lupa diri.
Saya, sebagaimana banyak orang, mengenal sosok dokter ini sebagai orang yang kuat empatinya. Terutama itu pada kaum fakir. Soal berobat di tempat praktiknya dan tak dipungut biaya, itu sudah bukan hal baru, saya mengalaminya dulu. Saudara perempuan saya, saat sedang sakit menahun, sang dokter yang baik hati ini, menolongnya di kediaman orang tua kami. Tak tanggung-tanggung, membawa seorang psikiater ternama dari Manado, saat sedang tugas visitasi di rumah sakit pemerintah di Maluku Utara kala itu, sekitar 15 tahun lalu. Saya spontan mengingat sebuah buku kecil saat sedang menulis ini dan melihat-lihat kembali tulisan pengantar almarhum Nurcholish Madjid untuk bukunya itu, Pikiran-pikiran Nurcholish ‘Muda’, Islam, Kerakyatan dan Keindonesian. Cak Nur mengulas sistematis tentang tiga tugas Islam sebagaimana tercermin dalam surat-surat pendek Alquran, yaitu keimanan, persamaan manusia dan pembelaan kaum miskin.
Merasa tak cukup “kuat” dan tak mengesankan kental subjektifitasnya, saya melengkapi tulisan pendek ini dengan mengontak seorang karib yang juga “orang dekat” sang dokter ini, dan teman masa sekolahnya dulu, sembari sedikit mewanti-wanti, ini masih rahasia, disertai emoji sedang senyum. Dan ini testimoninya yang saya sesuaikan seperlunya : Secara akademik, dokter itu memiliki prestasi terbaik dari SMP hingga SMA. Juga punya kecerdasan kognitif dalam relasi sosial. Orangnya humanis, sensitif dan mudah berempati terhadap orang lain. Dengan kelebihan rezeki yang dimilikinya, punya implikasinya banyak, laki-laki rumahan dan cinta pada keluarga ini mudah membantu orang dan menyantuni kaum fakir. Tipikal penikmat dinamika sosial-politik dan mudah bersosialisasi di ruang-ruang publik.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.