Oleh: Anwar Husen

Kolomnis/Tinggal di Tidore

_______

SEMESTINYA, edisi revisi buku saya “Cermin Retak Kehidupan” untuk cetakan ke-3 telah naik cetak, untuk revisi sedikit konten dan teknisnya. Ini menjadi terlambat karena dipending sebentar gara-gara telepon di pagi itu, sebuah konten menarik didapatkan.

Dua kali panggilan tak terjawab, terkonfirmasi di WhatsApp saya. Kebetulan saya sedang di kamar kecil. Ada pesan masuk menjelaskan identitas yang menelepon barusan. Dua panggilan tak terjawab lainnya, datang dari dua karib lainnya, mengonfirmasi bahwa ada sosok ini barusan menelepon saya. Saya spontan menghubunginya dan mengiyakan maksudnya datang ke kediaman saya karena ada sesuatu urusan penting. Itu terjadi di Jumat pagi kemarin.

Sosok ini adalah rekan kerja saya dulu, saat masih berkarier di Kota Tidore Kepulauan, sekitar 14 tahun lalu. Saya Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga dan sosok ini Kepala Dinas Kesehatan. Saat ini telah purnatugas selang setahun lalu.

Menyebut namanya, publik di kota ini pasti mengenalnya. Sering disapa dengan dokter Dullah, nama lengkapnya Abdullah Marajabessy. Saya memberi garansi, jika anda menyebut nama ini di pelosok kecamatan terjauh di daerah ini, satu dari tiga orang akan mengakrabinya karena tak ada sosok mirip.

Meski pernah sebagai rekan kerja hingga teman mengobrol di kedai-kedai kopi di Tidore, saya relatif tak akrab dengan sisi-sisi pribadi dan humanis. Tapi sejujurnya, telah cukup teropini kiprah sosoknya di soal-soal yang bersentuhan dengan kebutuhan banyak orang, teristimewa kaum fakir.

Ternyata maksud telepon tadi yang mengesankan hal yang begitu penting, adalah mengonfirmasi dan meminta tanda tangan atas perbaikan kesalahan penulisan ijazah keluarganya. Ijazahnya paket C, lulus sekitar 14 tahun lalu saat saya masih menjabat pimpinan institusi pendidikan tadi. Memang dalam banyak kasus, hal begini biasa terjadi. Bukan kali pertama.

Tak mengatakan bahwa ini adalah urusan sepele. Tapi keluarga yang menyertainya juga adalah dua lelaki dewasa yang bukan awam. Satu orang tua, satunya lagi yang punya ijazah. Lengkap dengan dokumen pendukungnya. Saya sempat terpikir, tanpa “kepanikan” sang dokter ini untuk bersibuk menolong keluarganya ini pun, saya pasti dengan senang hati membantunya.