Oleh: Asghar Saleh
_______
SHANGCHEN Sport Center Hangzhou Kamis malam akhir September 2023, saat wasit meniup peluit tanda akhir, skor masih tetap tanpa gol. Babak 16 besar Asian Games terpaksa dilanjutkan dengan babak perpanjangan waktu. Di kubu Indonesia, pelatih Indra Sjafri tak melakukan rotasi. Tak ada perubahan taktikal.
Di sisi lapangan yang lain, Timur Kapadze meminta anak asuhannya bermain lebih menekan. Jangan sampai pemenang ditentukan lewat adu penalti. Hasilnya, belum setengah extra time berjalan, Sherzod Esanov membobol gawang Indonesia memanfaatkan sepak pojok.
Tensi pertandingan meninggi. Indonesia berbalik menekan. Gol Sananta dianulir wasit karena offside. Asyik menyerang, killing goal Esanov di penghujung laga menghentikan langkah Indonesia di pesta olahraga terbesar Asia itu. Uzbekistan melangkah jauh.
Tujuh bulan setelah itu, Indonesia kembali bertemu Uzbekistan – lawan tangguh yang belum sekalipun kalah dalam enam pertemuan – dalam babak delapan besar Piala Asia U-23. Esanov tak lagi dibawa Choach Kapadze, namun ada 15 pemain dari skuad Asian Games yang tetap bertahan. Sebut saja penyerang belia yang makin berbahaya, Khusayn Norchaev dan gelandang Jassurbek Jalolidinnov.
Norchaev sudah bikin 2 gol di Piala Asia kali ini. Ia punya tandem mematikan di lini depan bernama Ausher Idilov yang juga sudah bikin 2 gol. Kedua bomber muda ini dilayani oleh duet gelandang seusia yang bermain di Liga Rusia. Ada Abbosek Fayzullaev (CSKA Moscow) dan Umarali Rakhmonaliev (Rubin Kazan).
Sejak grup stage hingga babak perempatfinal, Uzbekistan sudah bikin 12 gol. Rataanya tiga gol per pertandingan. Ada 10 pemain yang berkontribusi membuat gol. Jika menonton laga mereka saat membantai Kuwait 5-0, Vietnam 3-0, Malaysia 2-0 hingga Arab Saudi 2-0, skuad asuhan Kapadze ini sangat mengandalkan kolektivitas. Game plan mereka terjaga dengan transisi menyerang-bertahan yang sama baiknya.
Indonesia wajib mewaspadai set peace dan long direct ke area pertahanan yang kerap dilepas dari lini tengah. Mayoritas gol selama di Qatar lahir dari kejelian memanfaatkan tendangan bebas ke area pertahanan lawan atau umpan terobosan panjang yang diawali pergerakan mencari ruang kosong oleh Norchaev atau Idilov. Jika buntu, Uzbek sangat sering melepas tendangan terukur keras dari luar area 16. Abbosek dan Jassurbek sangat mahir melakukannya dan berakhir gol.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.