Oleh: Sutrisno Pangaribuan

Kader PDIP

_______

SATU-satunya kerja sama politik antarparpol, yang paling strategis dan paling solid, sekaligus paling dahsyat pasca Pemilu 2024 adalah kerja sama politik PDIP dan PKS. PDIP dan PKS telah membuktikan sebagai partai ideologis yang paling militan, solid, dan kuat. Sehingga kelompok Orde Baru dan Neo Orde Baru selalu berusaha menghempaskan koalisi PDIP dan PKS baik di Pilpres maupun Pilkada. PDIP dan PKS sebagai partai politik yang memiliki basis konstituen yang kuat, jaringan struktur partai yang solid, dan kader yang digerakkan oleh ideologi partai akan menjadi ancaman bagi partai lain yang cenderung pragmatis dan oportunis.

Kerja sama politik kedua partai pasti akan menjadi energi baru buat dinamika politik nasional. Maka di Sumatera Utara (Sumut) sedang dirintis kerja sama politik antara PDIP dan PKS. Rapidin Simbolon (Bupati Samosir 2015-2020, Ketua DPD PDIP Sumut), caleg terpilih DPR RI 2024, berpasangan dengan Salman Alfarisi (Wakil Ketua DPRD SU, MPW PKS Sumut), caleg DPRD Sumut terpilih 2024. Kedua figur tersebut akan diperkenalkan kepada publik sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur. Pasangan Rapidin dan Salman diberi akronim (RaSa).

Kerja sama politik PDIP dan PKS akan mendorong terciptanya tatanan politik baru, akan terjadi pertarungan politik parpol yang ideologis versus parpol pragmatis, oportunis. RaSa akan memberi “rasa” yang berbeda pada Pilgubsu 2024. Pasangan RaSa akan menegaskan potret Sumut sebagai miniatur politik Indonesia yang selalu dibangun atas kerja sama politik kutub nasionalis dan kutub Islam. PDIP sebagai satu- satunya partai nasioanalis bekerjasama dengan PKS sebagai partai berbasis Islam yang kuat dan solid.

Kerja sama politik PDIP dan PKS juga akan dijalin dan dibangun di 33 kabupaten/ kota se-Sumut di Pilkada serentak tahun 2024. Kerja sama sesuai komposisi perolehan kursi atau suara di Pemilu 2024. Jika di kabupaten/kota tersebut kursi/suara PDIP lebih tinggi, maka calon bupati/wali kota dari PDIP, wakilnya dari PKS. Demikian sebaliknya, jika di kabupaten/kota tersebut kursi/suara PKS lebih tinggi dari PDIP, maka calon bupati/wali kota dari PKS, wakilnya PDIP. Kerja sama politik yang fair, adil, dan terbuka, sekaligus profesional dan proporsional.

Kerja sama politik PDIP dan PKS akan memberi RaSa baru pada kontestasi politik barbar ala Pemilu 2024. Politik uang yang berlangsung secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) sangat mengkhawatirkan bagi masa depan demokrasi Indonesia. Maka kerja sama politik PDIP dan PKS, di Pilkada se-Sumut kiranya menjadi role model kerja sama politik nasional di seluruh provinsi, dan kabupaten/kota. Jika kerja sama politik di Pilkada serentak 2024 berhasil, maka kerja sama politik PDIP dan PKS akan berlanjut di Pilpres 2029. (*)