Oleh: Anwar Husen

Kolomnis Tetap/Tinggal di Tidore

_______

TERASA ada yang hangat, diskusi singkat di WAG KAHMI Maluku Utara pagi hingga selepas Jumatan tadi. Hingga bisa menggeser tema yang hendak saya tulis kali ini. Maklum, keburu “basi”.

Pemicunya, sebuah pesan singkat yang saya kirim di WAG ini, soal 3 fakta yang saya temui di keseharian belakangan ini, yang sudah sering berulang. Fakta terakhirnya, saya temui pagi tadi saat menyambangi pasar rakyat di Tidore.

Ini pesan singkat saya tadi: di perempatan samping pasar yang ramai, ada kelompok orang memutar musik berirama qasidah yang keras sambil menjaja kotak sumbangan untuk pembangunan tempat ibadah.

Padahal, potensi risiko lakalantas besar karena tak ada traffic light dan bunyi klakson kendaraan terganggu bunyi musik. Entah hal-hal begini disadari atau tidak.

Di sebuah tampat ibadah, gemuruh toa di menaranya yang melantunkan pengajian, begitu memekakkan dan relatif mengganggu tetangga sekitar. Padahal volumenya bisa dibuat sedikit terukur karena jarak potensi jamaahnya juga tak jauh dan di era digital ini, orang terlalu mudah untuk sekadar mengingat waktu salat lewat Android. Proses penghitungan suara di sebuah TPS sedikit terganggu karena bunyi pengajian murottal ba’da Magrib dari toa masjid yang berjarak tak jauh dari masjid.

Jika 3 fakta di atas diterima sebagai sesuatu perilaku yang “benar” oleh banyak orang, maka perilaku beragama kita tak jauh dari tesis ini : 1. musik irama qasidah yang keras di perempatan yang ramai tadi lebih penting dari potensi lakalantas. 2. Tetangga yang sedang sakit atau punya hajat lain yang butuh sedikit ketenangan di luar waktu salat, tidak lebih penting dari pada memutar pengajian murottal di menara masjid, sebelum dan sesudah salat. 3. Proses penghitungan suara di TPS yang dimulai dari siang dan berpotensi hingga dini hari itu, tak lebih penting dari memperdengarkan pengajian murottal ba’da Magrib tadi.

Perilaku beragama itu mestinya dimulai dari ikhtiar untuk menyelam di dasar lautan pengenalan, bukan dengan mengikuti kebiasaan yang kadang tak berarah dan tak produktif hingga melestarikan perdebatan di laut dangkal.