Oleh: Nazwar, S.Fil.I., M.Phil
Penulis Lepas Yogyakarta

_______

FILTERISASI adalah usaha penyaringan; tidak hanya penyisihan dari prioritas-prioritas, namun juga pemilahan hal-hal yang bisa dianggap penting untuk diambil sedang yang selainnya disisihkan. Terhadap kontestasi politik adalah gimik yang dianggap berlebihan sehingga menjadi tidak penting.

Gimik politik, adalah bahasa-bahasa baik verbal dan non-verbal juga gestur yang berorientasi politik praktis. Bahasa yang merupakan gimik bukan semata bermakna politis belaka, namun bertujuan spesifik semisal menyasar posisi tertentu dalam jabatan pemerintah atau program melalui kontestasi politik, semisal pemilu.

Urgensi filterisasi gimik politik ternyata tidak semata lantaran berlebihan dan tidak penting, alasan lain yang justru bersifat esensial-eksistensial adalah kepribadian. Karakter sosok yang ditampilkan dalam kontestasi politik menjadi pertimbangan sangat penting.

Kembali kepada pembahasan filterisasi gimik politik, pertimbangan urgensinya dirangkum penulis dalam beberapa poin berikut:

  1. Membosankan
    Menampilkan sosok “berwajah lama” sebenarnya bukan menjadi masalah selama sosok tersebut, setidaknya dapat menampilkan diri atau membawa diri dengan sosok dengan kriteria di atas, yaitu berkepribadian. Namun sikap tersebut dapat saja membawa masalah tatkala bersifat identik atau harus sedang ada ruang untuk menjadikan sosok baru dengan karakter yang memenuhi.
    Persoalan pada poin ini adalah muncul perasaan bosan tatkala tokoh yang ada sebagai sosok representasi pemimpin atau tokoh politik selanjutnya dipaksakan. Perasaan enggan terhadap yang baru dengan bersikap keukeh dengan yang lama tanpa ada alasan yang jelas. Alasan tersebut menjadikan tidak hanya sosok namun kontestasi perpolitikan secara umum termasuk dalam poin ini, yaitu berpotensi membosankan.
  2. Pemborosan
    Pemborosan atau penggunaan dana negara khususnya secara tidak tepat dan penggunaannya pun berlebihan termasuk perbuatan mubazir dan tidak baik serta jauh dari kebijaksanaan. Sikap pemborosan sebisa mungkin harus dihindari. Sebab jika tidak, proses perpolitikan dapat saja menjadi bagian dari perhubungan atau bentuk sikap mengikuti jejak setan, maka hal ini tentu bukan bagian dari negeri kita.
    Sikap boros dalam mengekspresikan bahasa politik dalam pengertian berlebihan serta tidak penting harus dihindari, termasuk berkaitan dengan gimik-gimik. Sebab sikap boros bukan sikap terpuji, maka harus dihindari termasuk ekspresi berupa gimik politik.
  3. Dapat mengundang penyakit
    Tahukah anda gimik politik sebagaimana yang telah dijelaskan, jika dibiarkan dalam kondisi tanpa terfilterisasi dapat berakibat buruk dan jika tidak disikapi secara tepat akan mengundang penyakit. Penyakit yang dimaksud tidak hanya menyasar kepada para pelaku politik namun juga unsur yang terlibat aktif di dalamnya bahkan masyarakat secara umum.
    Jika di beberapa provinsi seperti Jawa Tengah terdapat rumah sakit yang diperkhususkan sebagai persiapan terhadap para calon legislatif yang mengalami gangguan jiwa karena gagal menjadi pejabat atau menduduki posisi sebagai yang diinginkan, maka proses perpolitikan secara umum berisiko pada kesehatan mental terlebih jauh dari langkah-langkah tersebut di atas.