Sama seperti kecenderungan di hari-hari ini, orang ramai-ramai bicara tentang kontestasi pemilihan presiden. Terbaca dari tema cerita lepas di kedai-kedai kopi hingga di tiris-tiris rumah kita. Tak usah lihat di media-media sosial, sudah pasti rame. Padahal “jarak” dan korelasinya dengan kepentingan langsung hingga “kebutuhan” faktual kita saat ini dari berbagai sisi, begitu jauh ketimbang bicara tentang sosok calon pemimpin hingga “nasib” provinsi ini ke depan, misalnya. Semua seperti berlagak negarawan.

Bagi saya, ada baik juga kita belajar dan berharap ada transformasi kultur berusaha, manajemen peluang hingga risiko dan ekspansi usaha dari mereka-mereka yang telah mapan, daripada mentalitas berusaha yang terlalu berharap pada dukungan kegiatan pemerintah daerah yang meninaboboka dan sulit membuat kita mandiri.

Hal lain, informasi dari seorang karib saya yang bekerja di sebuah bank pemerintah, pemanfaatan dana KUR, lebih besar proporsinya dimanfaatkan oleh pedagang-pedagang kecil yang datang dari luar daerah, padahal kita cukup punya akses yang mudah pada syarat-syaratnya. Ini tentunya hal yang memilukan juga, betapa kita tak cukup siap untuk bisa bersaing dalam berusaha, padahal di skala yang yang terbilang kecil.

Secara faktual, daerah ini sangat perlu banyak orang yang berkunjung ke sini untuk turut “berkontribusi” menggerakkan ekonomi hingga daya beli. Dengan cara itu, mungkin geliatnya bisa kelihatan. Karena itu, kita berkepentingan menjaga, memelihara dan “tidak merusak”nya, karena orang-orang yang datang itu, sudah pasti membawa “dompet” yang berisi duit, bukan berisi kertas kosong.

Di sebuah postingan di akun Facebook, saya pernah menuliskan pesan bahwa daerah ini hanya butuh dulu: orang yang bisa mendatangkan orang, mendatangkan orang yang bisa membawa orang, mendatangkan orang yang bisa membawa barang dan mendatangkan orang yang bisa membawa uang. Selebihnya, bisa diterjemahkan.

Dan membuat event nasional di daerah adalah salah satu cara mendatang orang yang bisa membawa orang dan uang, dompet tadi. Di dunia kepariwisataan, inisiatif kunjungan berulang adalah salah satu variabel sebuah destinasi itu kompetitif. Kita berkepentingan memelihara dan menjaga ritmenya.

Semalam, saya bersama keluarga mengitari Tugulufa. Dari balik jendela mobil, terlihat geliat pemilik kuliner yang mulai sibuk menata dan mempersiapkan tempat. Mungkin menyongsong event nasional peringatan Hari Nusantara di awal bulan ini, di daerah ini. Mungkin penting untuk sejenak menjadi renungan bersama, khusus bagi yang memilih pilihan berusaha sebagai penjual kuliner untuk para tamu, anda adalah garda paling depan merawat image daerah ini, sekaligus menjaga potensi konsumen. Tak bisa kita berpikir meraup untung yang besar di suatu waktu dengan mengabaikan potensi sama yang jauh berkali lipat di waktu yang lain. Begitupun pelaku usaha lainnya, operator taksi air, angkot dan jenis angkutan kota lainnya.

Sembari mengamati “kesibukan” pemilik kedai kuliner tadi, saya bergumam dalam hati: semoga tak ada lagi “Aib Nasional Jilid ll” seperti di momentum Sail lalu, yang bikin tamu, orang yang membawa “dompet-dompet” itu, bersumpah untuk tak mau kembali lagi ke sini. Wallahua’lam. (*)