Setidaknya, kemunculan mereka merupakan fenomena elitisme dan kekuasaan oligarki yang makin menguat untuk mengubah wajah demokrasi dalam kendali kaum muda. Namun, apakah kendali mereka dari kalangan oligarki itu dimulai dari proses yang setara dengan anak muda lain yang hanya memiliki kecukupan intelektual?
Peranan mereka menarik ingatan kita untuk pergi menjelajahi sekelompok anak muda yang disebut sebagai Robber Baron di Amerika abad ke-19. Robber Baron diidentik sebagai referensi negatif untuk para pebisnis yang mengumpulkan kekayaan dengan mencuri kepemilikan publik, yang dianggap kejam dan tidak etis (Will Kenton, 2022).
Mereka menguras berbagai sumber daya negara dan mempengaruhi aturan demi menguntungkan pribadi. Burton W. Folsom (The Myth of Robber Barons: A New Look at the Rise of Big Business in America, 2018), dalam buku ia meneliti peran pengusaha kunci dalam pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dari tahun 1850 hingga 1910 yang di dalamnya terdiri dari beberapa pengusaha yang meniti karir bisnisnya di usia muda.
Mereka adalah Cornelius Vanderbilt yang merintis usaha sejak usia 16 tahun. John D. Rockefeller memulai bisnisnya di usia 20 tahun, James J. Hill memulai karir bisnis di usia 17 tahun, Andrew Mellon sekitar 28 tahun melanjutkan usaha ayahnya di sektor keuangan. Demikian Charles Schwab yang terkenal sebagai pengusaha yang unggul di usia 35 tahun.
Apakah peranan dari eksistensi sekelompok anak muda pebisnis Indonesia dan pejabat negara yang saya sebutkan di atas adalah manifestasi Robber Baron? Saya menyebut mereka anak muda tapi oligarki, karena menduduki jabatan publik hanya untuk meraup keuntungan pribadi. Aturan diacak-acak sesuka hati. (*)

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.