Mayoritas masyarakat desa Saria yang menaruh harapan terhadap sektor perikanan (nelayan) berkisar 80% sisanya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan lainnya. Hidup bersinggungan langsung dengan laut membuat masyarakat setempat mampu bertahan hidup secara mandiri dan alamiah serta memanfaatkan bonus geografisnya sebagai harapan dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Seiring berjalannya waktu serta pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, pastinya terdapat perubahan-perubahan tertentu yang dilakukan masyarakat pada tampilan fasilitas pendukung pada sektor perikanan sebagai upaya peningkatan kualitas pendapatan maupun keselamatan bekerja. Namun masyarakat setempat tetap mempertahankan giop sebagai transportasi dalam melakukan aktivitas penangkapan ikan. Giop merupakan kapal yang berbahan dasar kayu dan berukuran cukup besar dengan kisaran muatan 5- 7 ton.
Selain giop yang digunakan sebagai sarana pendukung aktivitas kelautan, ada juga sarana pendukung lainnya yaitu rompong (penyebutan oleh masyarakat setempat), rompong/rumpon merupakan salah satu jenis alat bantu penangkapan ikan. Pemasangan rumpon dimaksudkan untuk menarik gerombolan ikan agar berkumpul di sekitar rumpon sehingga ikan mudah untuk ditangkap.
Dalam bahasa kelautan, rumpon merupakan karang buatan yang sengaja didesain untuk ikan agar mudah mendapatkan sumber ketersediaan makanan seperti ikan-ikan kecil dan plankton yang berkumpul di sekitar rumpon, di mana ikan dan plankton tersebut merupakan sumber makanan bagi ikan-ikan besar. Bahan dalam pembuatan rumpon pun masih terbilang tradisional, bambu dijadikan sebagai bahan dasar karena dapat bertahan selama 6 bulan sampai 3 tahun lamanya. Kemudian bambu tersebut didesain dengan bentuk pada umumnya.
Selama ini masyarakat nelayan desa Saria menginisiasi secara mandiri untuk keperluan operasional produksi dari kucuran modal yang diperoleh dari hasil penangkapan selama beberapa bulan ke belakang, transformasinya dari waktu ke waktu mendulang kekaguman sekaligus kealpaan perhatian dari Pemerintah Daerah.
Namun hal tersebut tidak memutuskan mata rantai aktivitas nelayan, sebab tolok ukur kesejahteraan masyarakat nelayan berada pada potensi Sumber Daya Alamnya (SDA) yaitu pada sektor perikanan, akan tetapi sarana prasarana pendukung operasional kelautan sangat dibutuhkan oleh nelayan setempat.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.