Mungkin kita mahfum untuk menimbang kejujuran. Di mana jujur adalah sebuah kata sifat/abstrak yang sulit untuk ditakar.
Oleh karena itu, sebuah kontestasi politik yang dimulai dari pemilihan penyelenggara pemilu (KPU dan Bawaslu) sudah terdapat banyak intrik serta pemufakan jahat. Koordinasi dan negosiasi menjadi renyah guna melanggengkan tujuan akhir. Afiliasi melalui jaringan ormas dan partai politik pun ikut membumbui. Terencana. Dan itu semua saling bertaut atas nama “demokrasi”. Masyarakat pun dibuat apatis.
Wajah perpolitikan kita tidak pernah berubah untuk bergerak maju. Demokrasi semacam formalitas semata. Ditata tapi tak tertata. Tidak ada perubahan yang signifikan. Disinilah perlu untuk menimbang kejujuran kita dalam merespon setiap hajatan politik. Meski jujur adalah sesuatu yang abstrak, tapi ia tidak lain adalah cermin dari perilaku manusia.
Mengakhiri tulisan ringan ini, terdapat pepatah Cina bahwa rupa boleh diubah, tapi sifat/tabiat tak boleh diubah atau dibawa mati. Semoga orang-orang terpilih dalam hajatan pemilihan umum (penyelenggaraan, legislatif sampai presiden) adalah orang-orang pilihan yang mampu menimbang kejujuran. (*)

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.