Oleh: Hudan Irsyadi

Dosen Antropologi Sosial Unkhair dan Direktur SiDeGo

_______

TAK lama lagi, bangsa Indonesia akan memasuki pelaksanaan pemilihan umum serentak. Tepat di awal tahun, tanggal 14 Februari 2024, kita akan melaksanakan pemilihan umum presiden dan legislatif (DPR, DPD, DPRD provinsi/kabupaten/kota).

Dalam caturan politik, tentu banyak intrik-intrik yang berlalu lalang. Ibarat jalan raya, yang secara normatif kita sebagai pengguna jalan harus taat terhadap rambu-rambu lalulintas itu, seperti: pertama; setiap pengendara harus memiliki surat-surat lengkap. Artinya pengendara harus mempunyai surat-surat kendaraan semisal SIM, STNK dan BPKB yang menjamin kenyamanan dalam perjalanan. Kedua; atribut kendaraan berupa helm, kaca spion, sabuk pengaman dll. juga harus tersedia kalo tidak mau dikena tilang. Ketiga; umur yang cukup untuk berkendara.

Namun dalam banyak kasus yang terpotret secara sosial, masih cukup banyak masyarakat kita yang melanggar aturan-aturan yang sudah ditetapkan dengan berlapis-lapis regulasinya. Semisal tidak memakai helm, tidak membawa SIM, terobos rambu lalu lintas dan seterusnya. Pada aras ini, pernahkah kita jujur?

Dengan menggunakan analogi di atas saya ingin mengajak pembaca untuk berlaku jujur di tahun politik dengan menimbang kejujuran.

Meminjam frasa dari filsuf kenamaan Aristoteles bahwa manusia adalah ‘mahluk politik’. Kongkritnya, sejak kita tumbuh kembang, dari anak-anak, remaja sampai dewasa, tanpa sadar kita sudah mempraktekkan politik di lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah, dll. Dan terkadang hal tersebut sudah menjadi kebiasaan (habitus).