“Kalau pas tawuran, seng rumah babunyi terus, tong ini so satu minggu tara bisa tidur, dan subuh baru bisa tidur darah kering. Apalagi kalau tong punya anak-anak sekolah tidur kadang so tara bisa pigi sekolah,” akunya.

Terpisah, Kades Gotalamo, Sibli Tanimbar juga ikut membenarkan dampak buruk tawuran terhadap para pelajar sekolah.

“Tetap berimbas, belajarnya terganggu, tidurnya terganggu sekolahnya terganggu itu pasti,” kata Sibli.

Sibli bilang, kondisi seperti saat ini anak-anak harusnya mendapatkan ruang yang aman dan kondusif. Apalagi bagi mereka yang bakal menghadapi ulangan di sekolah.

“Kita harusnya dewasa berpikir, jadi kalau konflik dua desa ini anak-anak trauma dan kaget, karena kadang tara bisa tidur dan bangun di tengah malam,” ujarnya.

Menurut dia, sudah lebih dari 10 kali tawuran antar warga dua desa pecah.