“Memang dari sisi produksi kita masih ketergantungan dengan daerah luar salah satunya Sulut, dan daerah lain seperti Jawa. Tetapi untuk tanaman pangan hortikultura khususnya rica dan tomat, angka produksinya sudah di atas 50 – 60 persen. Akan tetapi kita tidak punya data yang valid sehingga orang menganggap kita masih datangkan dari Sulawesi,” ujarnya.

Menurut Muhtar, saat ini Halut, Halteng, Haltim dan Morotai untuk tanaman hortikultura misalnya rica dan tomat tidak lagi bergantung ke daerah lain sebab produksi petani sudah banyak.

“Kami berharap seluruh kabupaten/kota perlu ada sentra-sentra produksi yang didorong selain tanaman hortikultura, tanam pangan lain juga, seperti sayur-mayur dan kebutuhan lainnya,” harapnya.

Ia menambahkan, jika semua daerah sudah siap, tahap selanjutnya mengatur waktu produksi sehingga kebutuhan tetap tersedia. Dengan begitu pasokan barang dari luar bisa ditutupi dengan hasil produksi petani lokal.

“Paling tidak 70 sampai 80 persen kebutuhan masyarakat diatasi dengan hasil pertanian kita. Jika dari 10 kabupaten/kota ini memilik sentral unggulan pertanian, maka sudah bisa mengurangi angka ketergantungan dari daerah luar,” tandas Muhtar.