Tandaseru — Ketua TP PKK Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, Sherly Tjoanda memastikan menanggulangi segala kebutuhan korban pemerkosaan asal Desa Libano, Morotai Selatan, yang saat ini tengah hamil 7 bulan.

“Yang terpenting sekarang kita dampingi proses kelahirannya. Untuk selanjutnya nanti kita pikirkan dan diskusikan,” ungkap istri Bupati Benny Laos ini, Minggu (29/8).

“Tapi saya minta agar Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak mendata seluruh kebutuhan korban. Yang jelas kita PKK punya pos anggaran untuk menangani kebutuhan korban. Kita harus pastikan seluruh kebutuhannya hingga melahirkan,” kata Sherly saat mengunjungi korban di Guest House Morotai.

Setelah proses kelahiran selesai, kata Sherly, korban juga membutuhkan pendampingan psikologis secara berkala agar mental korban lebih siap saat kembali ke desa.

Hal ini mengingat korban yang masih di bawah umur dan tinggal bersama bapaknya yang disabilitas.

“Kita juga harus pikirkan bagaimana setelah melahirkan. Kalau kamu (korban, red) tinggal saja di sini. Nanti saya bicarakan dengan bapak (bupati), untuk menyiapkan rumah atau mencari alternatif untuk tinggal karena rumah yang kalian tempati di desa tidak layak huni. Nanti saya minta agar mereka juga dapat Kartu Sehat Morotai,” ucap Sherly kepada korban yang didampingi Ketua POKJA-1, Kabid PPA Dinsos, Ketua P2TP2A, LBH Perempuan dan Anak, dan Pusat Studi Gender.

Korban yang diajak bicara hanya terdiam. Sherly kemudian menyemangati korban.

“Sekarang adek tidak perlu takut. Kita semua ada di sini untuk membantu adek,” ucap Sherly.

Sherly berharap korban juga nantinya bisa melanjutkan pendidikannya. Tidak hanya itu, korban harus didampingi agar lebih mandiri agar bisa menghidupi anak dan orang tuanya.

“Jadi kita di sini semua dengan tujuan yang sama membantu. Tapi dia (korban) berhak menentukan masa depannya. Saya berharap dia sekolah lagi atau ikut paket C. Lalu diberi pelatihan kerja sesuai dengan bakatnya agar kelak bisa mandiri untuk keluarga kecil,” pungkas Sherly.